History is not what you thought. It is what you remember. All other history defeats itself.—W. C. Sellar and R. J. Yeatman. 1930 Preface, 1066 and All That. Sejarah ialah satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban. (Herodotus)
Sunday, 6 March 2016
Saturday, 5 March 2016
SEJARAH DESA SAWOJAJAR (Lampung Utara)
2.1. Sejarah Lampung
Utara
Pada awal
masa kemerdekaan, berdasarkan UU RI Nomor 1 Tahun 1945, Lampung
Utara merupakan wilayah administratif di bawah Karesidenan Lampung yang terbagi
atas beberapa kawedanan, kecamatan dan marga.
Pemerintahan marga dihapuskan dengan
Peraturan Residen 3 Desember 1952 Nomor
153/1952 dan dibentuklah “Negeri” yang menggantikan status marga dengan
pemberian hak otonomi sepenuhnya berkedudukan di bawah kecamatan. Dengan
terjadinya pemekaran beberapa kecamatan, terjadilah suatu negeri di bawah
beberapa kecamatan, sehingga dalam tugas pemerintahan sering terjadi benturan.
Status pemerintahan negeri dan kawedanan juga dihapuskan dengan berlakunya UU
RI Nomor 18 Tahun 1965.
Berdasarkan UU RI Nomor 4 (Darurat)
Tahun 1965, juncto UU RI Nomor 28 Tahun 1959, tentang
Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Sumatera Selatan, terbentuklah Kabupaten Lampung Utara di bawah Provinsi Sumatera Selatan. Dengan terbentuknya Provinsi Lampung berdasarkan UU RI Nomor 14 Tahun 1964, maka Kabupaten
Lampung Utara masuk sebagai bagian dari Provinsi Lampung.
Kabupaten Lampung Utara telah
mengalami tiga kali pemekaran sehingga wilayah yang semula seluas 19.368,50 km²
kini tinggal 2.765,63 km². Pemekaran wilayah pertama terjadi dengan
terbentuknya Kabupaten Lampung Barat berdasarkan UU RI Nomor 6 Tahun 1991,
sehingga Wilayah Lampung Utara berkurang 6 kecamatan yaitu: Sumber Jaya, Balik Bukit, Belalau, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan dan Pesisir Utara.
Pemekaran kedua tejadi dengan
terbentuknya Kabupaten Tulang Bawang berdasarkan
UU RI Nomor 2 Tahun 1997. Wilayah Lampung Utara kembali mengalami pengurangan sebanyak 4 kecamatan
yaitu: Menggala, Mesuji, Tulang Bawang
Tengah dan Tulang Bawang Udik. Pemekaran
ketiga terjadi dengan terbentuknya Kabupaten Way Kanan berdasarkan
UURI Nomor 12 Tahun 1999. Lampung Utara kembali berkurang 6 kecamatan yaitu: Blambangan Umpu, Pakuan Ratu, Bahuga, Baradatu, Banjit dan Kasui. Kabupaten
Lampung Utara, saat ini tinggal 8 kecamatan yaitu: Kotabumi, Abung Selatan, Abung Timur, Abung Barat, Sungkai Selatan, Sungkai Utara, Tanjung Raja dan Bukit Kemuning.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor
20 Tahun 2000 jumlah kecamatan dimekarkan menjadi 16 kecamatan dengan mendefinitifkan 8
kecamatan pembantu yaitu : Kotabumi Utara, Kotabumi Selatan, Abung Semuli, Abung Surakarta, Abung Tengah, Abung Tinggi, Bunga Mayang dan Muara Sungkai. Sedangkan
hari kelahiran Kabupaten Lampung Utara Sikep ini, setelah melalui berbagai
kajian, disepakati jatuh tanggal 15 Juni 1946 dan ini disahkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2002.
2.2 Sejarah
berdirinya Desa Sawojajar
Desa Sawojajar yang memiliki luas wilayah ±1960 Ha, awalnya menginduk
dengan Desa Wonomarto Kecamatan Kotabumi Utara, resmi menjadi Desa pada tahun
2002, membawahi delapan Dusun yakni :
- Dusun Sawojajar I
- Dusun Sawojajar II
- Dusun Sawojajar III
- Dusun Widorokandang
- Dusun Bumirejo
- DusunTanjungbulan
- Dusun Tanjungsari I
- Dusun Tanjungsari II
Dengan 32 RT (Rukun Tetangga) yang tersebar di Delapan Dusun tersebut dan
dihuni oleh 1459 KK (Kepala Keluarga), yang mayoritas penduduknya memiliki
penghasilan sebagai petani, peternakan dan industry rumah tangga. Desa
Sawojajar memiliki luas wilayah ±1960 Ha, berbatasan dengan :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Madukoro
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bumiratu
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Wonomarto
Untuk jarak dari desa ke ibu kota kecamatan adalah 8 km. lama jarak tempuh
ke ibu kota kecamatan dengan kendaraan bermotor yaitu sekitar 45 jam, apa bila
dengan berjalan kaki dapat ditempuh selama 3jam. Sedangkan jarak dari desa ke
kabupaten atau kota yaitu 16 kilometer. Lalu jarak dari desa ke ibu kota
provinsi yaitu sekitar 184 km. lama jarak tempuh ke ibu kota provinsi dengan
kendaraan bermotor yaitu 12 jam, sedang lama waktu yang diperlukan dengan
berjalan kaki yaitu sekitar 24 jam.
Dalam perjalananya yang masih terbilang muda, Desa Sawojajar pernah
dipimpin oleh beberapa Kepala Desa, diantaranya :
- Rachmad Basuki Tahun 2002 sampai dengan Tahun 2004
- Sudirman Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2008
- Mulyanto Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2013
- Heri Susanto Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2014 (Pjs)
- Yulinarsah, SH.MM. Tahun 2013 sampai dengan Sekarang (Pjs)
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Desa Sawojajar memiliki sumber
penerimaan Desa dari :
a) Pajak
Pajak yang dipungut dari masyarakat terdiri dari pajak bumi, dan pajak
usaha yang ada di Desa
Sawojajar.
b) Swadaya Masyarakat
Yang dimaksud dengan swadaya masyarakat ialah, penghasilan yang diambil
dari masyarakat secara sukarela, untuk kepentingan secara mendadak untuk
menunjang kelancaran pembangunan desa.
c) Dana Pembangunan Desa (DPD/k)
DPD/k bersumber dari pemerintah pusat, bersama pemerintah
Kabupaten
d) Dana Alokasi Desa
Dana ini bersumber dari APBD Kabupaten, yang dalam anggarannya
sendiri dapat berubah-ubah setiap tahunnya sesuai kebijakan
Pemerintah Kabupaten.
Berikut ini adalah potensi wilayah yang ada di Desa Sawojajar yang berhasil
dihimpun, berdasarkan luas wilayah berdasarkan penggunaan.
1. Luas
Pemukiman 380
ha/m2
2. Luas
Persawahan 252
ha/m2
3. Luas Perkebunan
1300 ha/m2
1) Perkebunan
Rakyat 400 ha/m2
2) Perkebunan Swasta
900 ha/m2
Potensi
Sumber daya Manusia
Jumlah
Jumlah laki-laki = 2.214 orang
Jumlah perempuan =
2.126 orang
Jumlah total = 4.340 orang
Jumlah kepala keluarga = 1.159 orang
Kepadatan penduduk =
100 per Km
Selain potensi tersebut diatas, tentunya Desa Sawojajar memiliki potensi
lain diantaranya, usaha industri rumah tangga, kerajinan dan usaha jual beli,
yang bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan taraf ekonomi penduduknya,
dengan campur tangan swasta maupun Pemerintah Kabupaten melalui instansi
terkait dengan memberikan pelatihan terpadu kepada masyarakat Desa Sawojajar.
(KIMS)
3.1
Kesimpulan
Dari pemaparan isi makalah
diatas dengan sengaja penulis memperkenalkan daerah tempat asalnya sebagai
suatu desa yang memilki nilai sejarah. Sejarah lokal mengajarkan kita untuk
memahami sejarah tidak hanya nasional ataupun internasional tetapi juga kita
sebagai pelaku sejarah nantinya harus mengetahui sejarah tempat asal kita
sendiri sebagai suatu bentuk apresiasi kita terhadap sejarah dan daerah asal
kita.
Sejarah lokal mengajarkan
banyak hal bagi masiswa akan pentingnya memahami sejarah desa asal sebagai
sumber utama berdirinya sejarah nasional di Negeri ini. Sering terjadinya
kesalahan dalam penulisan sejarah nasional disebabkan dari kurangnya data atau
arsip sejarah-sejarah lokal atau desa.
Jadi dengan mempelajari
sejarah lokal sejak kini setidaknya mampu mengurangi kesalahan-kesalahan dalam
pembuatan sejarah nasional, yang menyebab kan kekeliruan pandangan pada generas
yang akan dating terhadap daerah atau Negaranya sendiri dikarenakan sumber
penulisan sejarah hanya bersumber pada hasil pemikiran belaka.
DAFTAR PUSTAKA
Priyadi, Sugeng, 2012, Sejarah Lokal : Konsep, Metode dan tantangannya,
Yogyakarta. Penerbit Ombak
Pemerintahan kabupaten Lampung Tengah. 2007. Profil
Kelurahan Gunung Sugih Raya.
PENETRASI BARAT DAN REAKSI RAKYAT INDONESIA
A. Sebab – Sebab Terjadinya
Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Kolonial Belanda
Bangsa Belanda pernah menguasai Indonesia lebih dari 300 tahun. Dalam kurun
waktu itu, berkali-kali rakyat Indonesia mengadakan perlawanan. Pada bagian ini
kita akan membahas tentang kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia,
bentuk-bentuk penindasan Bangsa Belanda, dan perjuangan menentang penjajahan
Bangsa Belanda.
a.
Kedatangan Bangsa Belanda
Bangsa Eropa mulai mencari barangbarang kebutuhan sehari-hari, seperti
buah-buahan, rempah-rempah, wol, porselin , dan lain-lain dari negara-negara di
luar Eropa. Indonesia, terkenal sebagai tempat penghasil rempah-rempah. Rempah-
rempah yang dihas
ilkan bangsa Indonesia digunakan sebagai bahan obatobatan,
penyedap makanan, dan pengawet makanan. Maka, berlomba-lombalah Bangsa Eropa
untuk mendapatkan rempah-rempah dari Indonesia. Bangsa Belanda sampai ke
Indonesia pada tanggal 22 Juni 1596. Armada Belanda berhasil mendarat di
Banten, Jawa Barat. Pada awalnya, kedatangan Bangsa Belanda disambut baik oleh
Sultan Banten. Kegiatan perdagangan menjadi ramai. Namun, hal itu tidak
berlangsung lama. Bangsa Belanda berubah menjadi serakah dan kasar. Sikap itu
menyebabkan mereka dimusuhi dan diusir dari Banten.
Dua tahun setelah kedatangan pertama, bangsa Belanda datang lagi ke
Indonesia. Kali ini mereka bersikap baik dan ramah. Belanda dapat diterima
kembali di Indonesia. Banyak pedagang Belanda datang ke Indonesia. Hal ini
mengakibatkan terjadinya persaingan dagang dan pertikaian di antara mereka.
Akibatnya, harga rempah-rempah tidak terkendali. Untuk
menghindari pertikaian yang lebih parah pada tanggal 20 Maret 1602 dibentuk
Perkumpulan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Compagnie
(VOC). Mula-mula kegiatan VOC hanya berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan
VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli). Untuk mewujudkan maksud itu VOC
membentuk tentara, mencetak mata uang sendiri, dan mengadakan perjanjian dengan
raja-raja setempat.
Di Maluku VOC melakukan Pelayaran Hongi (patroli laut) untuk mengawasi
rakyat Maluku agar tidak menjual rempah-rempah mereka kepada pedagang lain.
Untuk mempertahankan harga, VOC juga memerintahkan penebangan sebagian pohon
rempah-rempah milik rakyat. VOC memberikan hukuman berat kepada rakyat yang
melanggar aturan monopoli itu.
Pusat-pusat perdagangan yang dikuasai VOC adalah Ambon, Jayakarta, dan
Banda. Pusat perdagangan Jayakarta direbut Belanda pada masa Gubernur Jenderal
J.P. Coen. Ia mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Coen kemudian membangun
kota Batavia dengan gaya Belanda. Kantor VOC yang semula ada di Ambon
dipindahkan ke Batavia. VOC mampu berdiri dalam waktu yang sangat lama. Pada
Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. VOC dibubarkan karena sebab-sebab
berikut ini :
- Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.
- VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.
- Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
- Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap.
Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung
oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Semua hutang VOC ditanggung oleh Kerajaan
Belanda. Sejak saat itu, Indonesia diperintah lansung oleh pemerintah Belanda.
Pemerintahan Kerajaan Belanda atas wilayah Indonesia ini berlansung sampai
tahun 1942. Pemerintah Belanda di Indonesia dinamakan Pemerintahan Hindia
Belanda.
c. Penindasan lewat kerja paksa, penarikan pajak, dan tanam paksa
Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte berhasil menaklukkan Belanda. Napoleon
mengubah bentuk negara Belanda dari kerajaan menjadi republik. Napoleon ingin
memberantas penyelewengan dan korupsi serta mempertahankan Pulau Jawa dari
Inggris. Ia mengangkat Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di
Batavia. Untuk menahan serangan Inggris, Daendels melakukan tiga hal, yaitu :
- menambah jumlah prajurit,
- membangun pabrik senjata, kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan,
- membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya.
Daendels memberlakukan kerja paksa tanpa upah untuk membangun jalan. Kerja
paksa ini dikenal dengan nama kerja rodi. Rakyat dipaksa membangun Jalan Raya
Anyer-Panarukan yang panjangnya sekitar 1.000 km. Jalan ini juga dikenal dengan
nama Jalan Pos. Selain untuk membangun jalan raya, rakyat juga dipaksa menanam
kopi di daerah Priangan untuk pemerintah Belanda. Banyak rakyat Indonesia yang
menjadi korban kerja rodi. Untuk mendapatkan dana biaya perang pemerintah
kolonial Belanda menarik pajak dari rakyat. Rakyat diharuskan membayar pajak
dan menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1811,
Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens.
Saat itu pasukan Inggris berhasil mengalahkan Belanda di daerah Tuntang, dekat
Salatiga, Jawa Tengah. Gubernur Jenderal Janssens terpaksa menandatangani
Perjanjian Tuntang. Berikut ini isi Perjanjian Tuntang :
- Seluruh wilayah jajahan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Inggris.
- Adanya sistem pajak/sewa tanah.
- Sistem kerja rodi dihapuskan.
- Diberlakukan sistem perbudakan.
Inggris berkuasa di Indonesia selama lima tahun (1811-1816). Pemerintah
Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di
Indonesia. Pemerintah memberlakukan sistem sewa tanah yang dikenal dengan nama landrente.
Rakyat yang menggarap tanah diharuskan menyewa dari pemerintah. Pada tahun
1816, Inggris menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda. Pemerintah Belanda
menunjuk Van Der Capellen sebagai gubernur jenderal. Van Der Capellen
mempertahankan monopoli perdagangan yang telah dimulai oleh VOC dan tetap
memberlakukan kerja paksa.
- Pada tahun 1830, Van Der Capellen diganti Van Den Bosch. Bosch mendapat tugas mengisi kas Belanda yang kosong. Ia memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong. Van Den Bosch membuat aturanaturan untuk tanam paksa sebagai berikut.Rakyat wajib menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
- Tanah yang dipakai untuk tanamam paksa bebas dari pajak.
- Hasil tanaman diserahkan kepada Belanda.
- Pekerjaan untuk tanam paksa tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
- Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan Belanda.
- Rakyat Indonesia yang bukan petani harus bekerja 66 hari tiap tahun bagi pemerintah Hindia Belanda.
Kenyataannya, ada banyak penyelewengan dari ketentuan itu. Misalnya, tanah
yang harus disediakan oleh petani melebihi luas tanah yang telah ditentukan,
rakyat harus menanggung kerusakan hasil panen, rakya harus bekerja lebih dari
66 hari, dan lain-lain. Akhirnya ketentuanketentuan yang diatur dalam tanam
paksa tidak berlaku sama sekali.
Pemerintah Belanda semakin bertindak sewenang-wenang. Tanam paksa
mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi rakyat Indonesia. Hasil pertanian
menurun. Rakyat mengalami kelaparan. Akibat kelaparan banyak rakyat yang mati.
Sebaliknya, tanam paksa ini memberikan
keuntungan yang melimpah bagi Belanda. Namun, masih ada orang Belanda yang
peduli terhadap nasib rakyat Indonesia. Di antaranya adalah Douwes Dekker. Ia
mengecam tanam paksa melalui bukunya yang berjudul Max Havelaar, dengan
nama samaran Multatuli. Max Havelaar menceritakan penderitaan bangsa Indonesia
sewaktu dilaksanakan tanam paksa.
Max Havelaar menggegerkan seluruh warga Belanda. Timbul perdebatan hebat
tentang tanam paksa di negeri Belanda. Akhirnya, Parlemen Belanda me-mutuskan
untuk menghapus tanam paksa secepatnya.
B. Perlawanan menentang penjajahan Belanda
Monopoli perdagangan, kerja paksa, penarikan pajak, sewa tanah, dan tanam
paksa menimbulkan banyak kerugian dan membuat sengsara rakyat Indonesia. Rakyat
Indonesia tidak tahan lagi. Rakyat Indonesia melakukan perlawanan
memperjuangkan martabat dan kemerdekaannya. Dari seluruh penjuru tanah air
timbul perlawanan terhadap penjajah Belanda.
a. Perlawanan terhadap VOC
Pada saat VOC berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali perlawanan. Pada
tahun 1628 dan 1629, Mataram melancarkan serangan besar-besaran terhadap VOC di
Batavia. Sultan Agung mengirimkan ribuan prajurit untuk menggempur Batavia dari
darat dan laut. Di Sulawesi Selatan VOC mendapat perlawanan dari rakyat
Indonesia di bawah pimpinan Sultan Hassanuddin. Perlawanan terhadap VOC di
Pasuruan Jawa Timur dipimpin oleh Untung Suropati. Sementara Sultan Ageng
Tirtayasa mengobarkan perlawanan di daerah Banten.
b. Perlawanan Pattimura (1817)
Belanda melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual
hasil rempah-rempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara
semena-mena, melakukan pelayaran hongi, dan menebangi tanaman
rempahrempah milik rakyat. Rakyat Maluku berontak atas perlakuan Belanda.
Dipimpin oleh Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten
Pattimura, rakyat Maluku melakukan perlawanan pada tahun
1817. Pattimura dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha,
Paulus Tiahahu, dan seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu. Perang
melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di Maluku, seperti Ambon, Seram,
Hitu, dan lain-lain.
Belanda mengirim pasukan besarbesaran. Pasukan Pattimura terdesak dan
bertahan di dalam benteng. Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan.
Pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng
Victoria di Ambon.
c. Perang Padri (1821-1837)
Perang Padri bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum agama
(kaum Padri). Kaum Padri ingin memurnikan pelaksanaan agama Islam. Gerakan
Padri itu ditentang oleh kaum adat. Terjadilah bentrokan- bentrokan antara
keduanya. Karena terdesak, kaum adat minta bantuan kepada Belanda. Belanda
bersedia membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau.
Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh
Tuanku Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil
mengacaukan pasukan Belanda. Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding. Pada
tahun
1925 terjadi gencatan senjata. Belanda mengakui beberapa wilayah sebagai
daerah kaum Padri. Perang Padri meletus lagi setelah Perang Diponegoro
berakhir. Tahun 1833 terjadi pertempuran hebat di daerah Agam. Tahun 1834
Belanda mengepung pasukan Bonjol. Namun pasukan Padri dapat bertahan sampai
dengan tahun 1837. Pada tanggal 25 Oktober 1837, benteng Imam Bonjol dapat
diterobos. Beliau tertangkap dan ditawan.
d. Perang Diponegoro (1925-1830)
Perang Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur
tangan Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu
memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak
untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya. Dipimpin Pangeran
Diponegoro, rakyat Tegalrejo menyatakan perang melawan Belanda tanggal 20 Juli
1825. Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat, Pangeran
Ngabehi Jayakusuma sebagai panglima, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja sebagai
panglima perang. Pangeran Diponegoro juga didukung oleh para ulama dan
bangsawan. Daerah-daerah lain di Jawa ikut berjuang melawan Belanda. Kyai Mojo
dari Surakarta mengobarkan Perang Sabil. Antara tahun 1825-1826
pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda. Pada tahun 1827, Belanda
mendatangkan bantuan dari Sumatra dan Sulawesi. Jenderal De Kock menerapkan
taktik perang benteng stelsel. Taktik ini berhasil mempersempit
ruang gerak pasukan Diponegoro. Banyak pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro
gugur dan tertangkap. Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap gigih. Akhirnya,
Belanda mengajak berunding. Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret
1830 di Magelang, Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Beliau diasingkan dan
meninggal di Makassar.
e. Perang Banjarmasin (1859-1863)
Penyebab perang Banjarmasin adalah Belanda melakukan monopoli perdagangan
dan mencampuri urusan kerajaan. Perang Banjarmasin dipimpin oleh Pangeran
Antasari. Beliau didukung oleh Pangeran Hidayatullah. Pada tahun 1862
Hidayatullah ditahan Belanda dan dibuang ke Cianjur. Pangeran Antasari diangkat
rakyat menjadi Sultan. Setelah itu perang meletus kembali. Dalam perang itu
Pangeran Antasari luka-luka dan wafat.
f. Perang Bali (1846-1868)
Penyebab perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan
memaksa Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan
karang adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang serta kapal-kapal
yang terdampar di Pulau Bali. Raja-raja Bali menolak keinginan Belanda.
Akhirnya, Belanda menyerang Bali. Belanda melakukan tiga kali penyerangan,
yaitu pada tahun 1846, 1848, dan 1849. Rakyat Bali mempertahankan tanah air
mereka. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, rakyat Bali mengadakan perang
puputan, yaitu berperang sampai titik darah terakhir. Di antaranya Perang
Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba (1908), dan Perang Puputan
Klungkung (1908). Salah saut pemimpin perlawanan rakyat Bali yang terkenal
adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.
g. Perang Sisingamangaraja XII (1870-1907)
Pada saat Sisingamangaraja memerintah Kerajaan Bakara, Tapanuli, Sumatera
Utara, Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli. Sisingamangaraja
beserta rakyat Bakara mengadakan perlawanan. Tahun 1878, Belanda menyerang
Tapanuli. Namun, pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat. Pada tahun 1904
Belanda kembali menyerang tanah Gayo. Pada saat itu Belanda juga menyerang
daerah Danau Toba. Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan
pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak. Sisingamangaraja gugur dalam
penyerangan itu. Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke
Balige.
h. Perang Aceh (1873-1906)
Sejak terusan Suez dibuka pada tahun 1869, kedudukan Aceh makin penting
baik dari segi strategi perang maupun untuk perdagangan. Belanda ingin
menguasai Aceh. Sejak tahun 1873 Belanda menyerang Aceh. Rakyat Aceh mengadakan
perlawanan di bawah pemimpin-pemimpin Aceh antara lain Panglima Polim, Teuku
Cik Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien. Meskipun sejak tahun
1879 Belanda dapat menguasai Aceh, namun wilayah pedalaman dan pegunungan
dikuasai pejuang-pejuang Aceh. Perang gerilya membuat pasukan Belanda
kewalahan. Belanda menyiasatinya dengan stelsel konsentrasi, yaitu memusatkan
pasukan supaya pasukannya dapat lebih terkumpul.
Belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk mempelajari sistem
kemasyarakatan penduduk Aceh. Dari penelitian yang dibuatnya, Hurgronje
menyimpulkan bahwa kekuatan
Aceh terletak pada peran para ulama. Penemuannya dijadikan dasar untuk
membuat siasat perang yang baru. Belanda membentuk pasukan gerak cepat (Marchose)
untuk mengejar dan menumpas gerilyawan Aceh. Dengan pasukan marchose Belanda
berhasil mematahkan serangan gerilya rakyat Aceh. Tahun 1899, Teuku Umar gugur
dalam pertempuran di Meulaboh. Pasukan Cut Nyak Dien yang menyingkir ke hutan
dan mengadakan perlawanan juga dapat dilumpuhkan.
Dari beberapa perlawanan yang dilakukan oleh rakyat di berbagai daerah pada
awalnya mengalami kemenangan tetapi pada akhirnya mengalami kekalahan. Hal itu
disebabkan karena beberapa hal antara lain :
1. Rakyat tidak bersatu, tetapi berjuang secara kedaerahan.
2. Rakyat mudah diadu domba, ingat politik devide et impera (politik adu domba).
3. Kurangnya persenjataan.
Satuhal yang patut ingat dan diteladani adalah :
1. Semua para pahlawan berjuang dengan rela berkorban dan tanpa pamrih
2. Para pahlawan memiliki jiwa dan semangat hidup gotong royong yang tinggi
3. Perlawanan rakyat menunjukkan bahwa semua rakyat menolak segala bentuk penjajahan
2. Rakyat mudah diadu domba, ingat politik devide et impera (politik adu domba).
3. Kurangnya persenjataan.
Satuhal yang patut ingat dan diteladani adalah :
1. Semua para pahlawan berjuang dengan rela berkorban dan tanpa pamrih
2. Para pahlawan memiliki jiwa dan semangat hidup gotong royong yang tinggi
3. Perlawanan rakyat menunjukkan bahwa semua rakyat menolak segala bentuk penjajahan
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sambutan Rakyat Indonesia terhadap Jepang
Kedatangan Jepang di Indonesia pada awalnya disambut dengan senang hati oleh rakyat Indonesia. Jepang dielu-elukan sebagai “Saudara Tua” y...
-
BAB I P ENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pertanian adalah kegiataan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusi...
-
2.1. Sejara h Lampung Utara Pada awal masa kemerdekaan, berdasarkan UU RI Nomor 1 Tahun 1945 , Lampung Utara merupakan wilayah admini...
-
2.1. KILAS BALIK PEMERINTAHAN DEANDLES Salah satu pemerintahan terkenal pada masa penjajahan Belanda adalah pemer...
